Monday, June 5, 2017

Barakah In Every Way

Rezeki memiliki dua adik kecil pada usia sekarang ini membuat banyak kontemplasi tak sadar. Anak-anak memang pada dasarnya baik, polos, dan menyukai kesederhanaan. Saat tersenyum, mereka melakukannya dengan tulus. Saat tertawa, mereka meluapkan rasa bahagia seluas-luasnya. Pun, saat marah. Marahnya anak-anak bukan untuk menyakiti orang di depannya. Hanya sebuah ungkapan ketidaksukaan atau ketidakterimaan. Dan mereka marahnya itu tulus. Bukan ada maunya.

Memiliki mereka sebagai adik sangat membantu menyeimbangkan pikiran.

Apa yang sebenarnya dicari dalam hidup ini? Kebahagiaan? Rasa aman? Sanjungan? Apa? Apa yang kalian mau? Apa yang saya mau? Apa yang kita mau? Orang dewasa punya banyak jawaban atas pertanyaan ini. Tapi anak-anak, hanya punya satu jawaban sederhana: mereka ingin merasakan bahagia.

Itu kenapa waktu kecil, mereka diminta punya cita-cita untuk digapai. Namun, menurut pengamatan saya, terkadang hal itu nantinya hanya jadi bualan. Hubungan antara cita-cita dan realita menjadi dua hal yang kadang berlawanan. Hidup terasa mencekik. Bahkan untuk bernapas saja begitu sulit. Apalagi untuk nostalgia cita-cita masa kecil. Kasihan.

Semua tahu, manusia tidak hidup untuk masa lalu. Maafkan. Terima. Tersisa berapa lama hidup kita di dunia? Mau galau sampai kapan? Menyalahkan orang tua sampai kapan? Mereka terlalu renta. Sudahlah. Sampai kapan mau menyalahkan orang laian atas ketidakaberdayaan diri sendiri. berhanti menjadi pengecut. Ini Ramadhan. Bukan bulan sembarangan. Dianjurkan untuk mengambil garis start melakukan hal-hal yang baik. Yang bermanfaat dan berkah.

Berkah di semua hal dengan sebuah kesepakatan besar di awal, yaitu… husnuzon kepada Allah. Pada dasarnya, Dialah Tuhan Semesta Alam. Dia tak ingin seorang muslim/muslimah pun sakit. Kecuali, untuk menaikkan derajat keimanan. Diuji dengan kesabaran. DIuji dengan kesakitan. Diuji dengan kekayaan. Diuji dengan luangnya waktu. Ketika ingat bahwa setiap mahluk yang namanya manusia itu diuji, maka pola pikir kita pasti berbeda.

Belajar dari anak-anak, saya jadi merasa terlalu rumit. Sudah saatnya melonggarkan pikiran untuk memuat lebih banyak hal baik. Sudah saatnya membuang kebiasaan buruk yang orang lain tahu ataupun yang orang lain tidak tahu. Yang jelas Allah Maha Tahu. Setiap sel-sel yang hidup di dalam tubuh ini ingin sesuatu yang baik. Mulailah berpikir baik, berbuat baik. Barakah in every way.

(in two years ago when Fatih was just born and Fatimah just enggak bisa diem jadi fotonya blur, haha)

Tuesday, March 7, 2017

My Skincare Journal : Pond’s, Wardah, Erha, and The Body Shop

Siti Solihah pernah “ditampar” sama banyak orang saat mereka bertanya ada apa dengan pipi di sebelah kanan. Ada titik-titik hitam yang lumayan banyak. Enggak kayak orang barat sih, yang titik-titik hitamnya terkadang banjir sampai leher. Beruntungnya, Siti Solihah cuma punya di pipi sebelah kanan. Mereka mulai banyak bertanya saat SMP, SMA, kuliah, sampai masa kerja sekarang. Dan “tamparan” itu saking banyaknya jadi luka tersendiri.

Terkena sinar matahari. Biasanya akan dijawab begitu disertai dengan tawa terkekeh. Berusaha menyembunyikan luka baru yang baru saja ditorehkan oleh si penanya. Dalam hati, meneruskan sendiri bahwa noda titik-titik hitam itu enggak ada di permukaan kulit, tapi kayaknya ada di lapisan agak dalam kulit. Soalnya enggak hilang-hilang walaupun pakai produk pemutih.

Waktu sekolah, belum punya uang cukup untuk ke dokter kulit. Akhirnya pakai produk yang ada di pasaran: Pond’s. Inget banget, pertama kali waktu sekolah, Mama-ke pernah kasih salep pemutih dan lidah buaya. Mama-ke baik dan perhatian banget.

Saat masa kuliah, masa ketika mahasiswi belajar cara make-up dan cari pacar, tapi Siti Solihah malah masih belum telaten mencocokkan warna kerudung dan bajunya. Kerudung hijau bajunya oranye. Heheh. Saat itu, sudah sering beli Wardah di Detos lewat gang senggol tentunya. Sekarang gang senggol sudah ditutup. Huhu. Produk Wardah lumayan ampuh daripada Pond’s soalnya ada beberapa variasi, seperti krim pagi, malam dan serum. Hasilnya cocok dan bikin wajah lembab serta lebih cerah. Tapi, si titik-titik hitam masih ada!

Saat masa kerja, dengan menginvestasikan hampir sebulan gaji, Siti Solihah direkomendasikan oleh Bibi Devi buat ke Erha, di Depok. Sesuai dengan perkiraan sebelumnya bahwa akan ada tindakan laser untuk menghilangkan si titik-titik hitam di pipi kanan. Selama satu tahun, bolak-balik ke Erha. Walau pake krimnya terkadang bolong-bolong dan enggak konsisten, hasil di Erha beneran keliatan! Si titik-titik hitamnya memudar 50-65% lho. Iya, walaupun belum pudar semua, tapi ini hasil yang baik. Syukurlah…

Dari skincare yang dilakukan di Erha, ada hal penting yang bisa dipelajari...

KONSISTEN!

MALAM HARI adalah waktu terbaik memberi makan nutrisi buat kulit!

CUCI MUKA sewajarnya! Maksimal 2 kali : malam dan pagi hari.

Sebenarnya, buat kasus noda membandel seperti ini, memang ada tindakan khusus yang produk pasaran enggak bakal bisa gantiin: LASER REJUVENATION selama 4-5 kali. Jadi, kalau ada yang jerawatnya parah misalnya, udah pake produk pasaran tapi enggak sembuh-sembuh, coba ke dokter kulit deh. Soalnya mereka punya alat-alat yang canggih. Heheh. Tapi pas dilaser ditutupin matanya, yang enggak suka gelap bisa deg-deg-an *ngaca.

Setelah kulit membaik lewat Erha, sekarang cenderung beralih ke produk yang lebih herbal dan organik. Yap! The Body Shop! Siti Solihah menghabiskan hampir sekian rupiah buat beli beberapa produknya. Ada yang punya dampak baik, ada yang kurang cocok. Produk mahal sekalipun, kalo enggak cocok ya enggak cocok… Sebenarnya, beli produk TBS juga salah satu mimpi waktu kuliah. Dulu di Detos cuma bisa nemenin temen beli minyak wangi. Heheh.

Tadi malam, krim Erha habis untuk terakhir kalinya. Saat ini tinggal tersisa liquid peeling, sunscreen, dan facial wash. Karena TBS mahal, kayaknya enggak bakal beli lagi kecuali ada diskon super. Sekarang, tinggal habisin aja produk-produk TBS dan Erha yang tersedia di rumah. Sesekali pakai maskernya Wardah yang enaaak banget itu :)

Ah pokoknya sekarang kulit wajahnya sudah lebih cerah dan si titik-titik hitam sudah memudar. Tinggal konsisten merawat terus supaya lebih pudar lagi. Juga hindari sinar matahari. Hoho.

Oh iya, niat buat melakukan skincare juga penting ya. Walaupun banyak yang melukai hati, tapi sama sekali bukan buat balas dendam. Heheh. Niatnya supaya Allah ridho, menjaga kebersihan, keindahan, dan kesehatan. Alhamdulillah Allah udah kasih rejeki buat ke Erha. Makasi Ya Allah…

“Proses sama pentingnya dengan hasil. Sabar dengan prosesnya. Insya Allah hasilnya akan maksimal.”


cantik itu relatif, bersih itu kewajiban :)

The Perfect Family (?)

Setiap keluarga itu unik. Setiap orang tua punya cara yang berbeda dalam mengasuh anaknya. Mereka pun (kebanyakan) enggak baca buku parenting kayak generasi kita. Tapi, satu hal yang patutnya kita pahami. Sama seperti kita, yang selalu ingin jadi anak kebanggaan mereka. Mereka pun sebenarnya sedang berusaha jadi sosok yang bisa dibanggakan buat anak-anaknya. Sekali lagi, dengan cara mereka. Terkadang memang enggak kelihatan. Maka dari itu, kita harus lebih peka. Enggak usah nunggu mereka ompong dan beruban dulu, kan? Baru kita mau bersikap baik?

Sama seperti seorang anak yang enggak suka dibandingin sama anak lain, orang tua juga. Berhenti bandingin mereka dengan ibu-ibu atau bapak-bapak tetangga kita. Yang mungkin dari luar kelihatan lebih alim, damai, tentram, dan memanjakan.

Allah sudah mentakdirkan kita lahir dari rahim ibu kita. Dari berjuta rahim yang ada. Allah sudah menggariskan sosok ayah yang sekarang kita punya untuk nanti jadi kakek anak-anak kita. Entah bagaimana pun karakter kedua orang tua kita. Mereka unik. Hati-hati sama lisan kita yang suka ngomong kelewatan. Hati-hati menyakiti hati mereka.



Wah, bersyukur banget punya orang tua yang murni baik hatinya. Walaupun diungkapkan dengan dua cara yang berbeda. Bapak biasanya cool banget dan lebih banyak action ketimbang bilang ini itu. Bukti nyata cinta adalah tindakan. Kira-kira begitu. Heheh. Kalo Emak (sekarang manggilnya Mama-ke) lebih suka banyak bicara dan bercanda. Dialah pelita penyubur suasana harmonis di rumah kami.

Jadi ingat kata Pak Ustadz Bendri. Dia bilang… idealnya, setiap rumah tangga yang dibangun keluarga muslim baiknya diliputi keberkahan. Rumah yang berkah selalu berhasil memanggil jiwa-jiwa anggotanya di luar untuk kembali pulang. Di rumah, jiwa itu jadi sebenar-benarnya jiwa. Tidak butuh lagi kepalsuan dunia. Di rumah itu semua anggota merasa tenang.

Bukan rumah yang jadi tempat persinggahan sesaat buat tempat makan, mandi dan tidur. Rumah yang hidup karena ada aura berkah yang menyelimuti setiap dindingnya.

Emak

Bapak

Kalian hebat!

Kalian bukan ummi-abi yang paham banget ilmu agama, tapi kalian sudah berusaha jadi orang tua yang terbaik. Sekali lagi, kalian hebat! Terima kasih! Semoga Allah makin sayang kalian berdua. Semoga kalian dianugerahi menantu-menantu yang soleh dan solehah. Semoga keberkahan keluarga ini bisa menjalar ke keluarga-keluarga yang lain. Semoga Allah hadiahkan bagi kalian Surga-Nya :)

“Salah satu bentuk rizqi yang amat nikmat adalah saat memiliki keluarga yang berkah.”

Friday, February 24, 2017

The Power of ‘Mumet’

Judulnya lucu, ya? Mumet alias kepala pusing kok ada power-nya? Hmm terus, gimana maksudnya? Gimana hayo…

Kalo kata Siti Solihah… Setiap mahluk yang namanya manusia, mau apapun kesibukannya, apapun amanahnya, apapun perannya, kita semua punya satu kesamaan. Ada bayangan masalah yang selalu membuntuti di depan dan belakang tubuh kita. Idealnya, masalah-masalah yang muncul entah itu jadi ujian, musibah, atau adzab (amit-amit jauh-jauhin) harus bisa diselesaikan dengan cool. Tanpa deg-degan super ahoy, tanpa nangis bombai ala india, tanpa merasa dijahatin sama Allah. Bisa? Segampang bilang begini, “Hei, masalah! Ngerujak bengkoang bareng, yuk!”.  

Ehm, itu idealnya ya. Heheh. Ada orang yang pas kena masalah, sesuatu atau situasi yang bikin dia mumet, langsung bikin sigap balik lagi ke Allah. Ya, yang kasih masalah itu Allah ya, balik lagi ke Dia. Minta supaya masalahnya segera terurai dan selesai. Ada malah yang langsung sedih, duduk sendiri,  kuambil tali, kugantung diri #lagujamandulu XD Wah, kacau nih! Jangan ditiru!

Hmm… Gimana nih kalo masalahnya besar sekali? Jadi ingat kata seseorang, “Sebesar apapun masalah kita, harus ingat, kita punya Allah Yang Maha Besar!” Hayo, bener ya? Coba dipikirin, masalah besar vs Allah Yang Maha Besar. Menang siapa?

Gunung segede itu bisa Allah buat, tapi Allah pula yang izinkan manusia bisa terbang di atasnya.

Iman memang banyak tingkatannya, ya. Coba tanya hati kita, sebesar apa iman kita sama Allah? Sebesar apa rasa percaya kita sama Dia? Sebesar apa rasa harap, takut, dan cinta kita? Enggak perlu jadi sempurna buat ngejawabnya. Enggak harus jadi nabi dulu. Heheh. Semoga kita bisa terus memupuk iman setiap detik hidup kita, ya!

Kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutan akan masa depan yang abstrak sepatutnya enggak baik disimpen lama-lama di pikiran kita. Baiknya, cepet dicurhatin ke Allah, minta pertolongan. Beneran. Allah itu lebih super daripada superhero di mana pun! Setelah itu, ikhtiar kedua yang bisa kita lakukan adalah curhat ke orang yang bisa dipercaya. Selain jadi ajang silaturahmi yang bisa panjangin umur sama rejeki, bisa juga jadi ikhtiar cari jalan keluar.

Berhenti mikir kalo kita adalah mahluk tersedih dan termerana di dunia. Padahal enggak begitu, kan? Setiap manusia punya masalahnya masing-masing. Bedanya adalah saat mereka menghadapinya. Kabur dari masalah itu konyol dan pengecut. Nabi Muhammad bukan pengecut. Malu aja sebagai umat beliau, kalo kita kabur-kaburan melulu kalo ditimpa masalah. Mari kita hadapi, tapi inget, backing-an nya tetep Allah! Sip? Yes!

Wah, jadi the power of mumet ini banyak juga ya? Bisa bikin kita deket lagi sama Allah, bisa bikin tebel iman kita, bisa naikin derajat kita, bisa jadi ajang melatih kesabaran, bisa jadi sarana muhasabah!

Sebagai penutup, supaya diri kita tetap kuat dan semangat apapun masalahnya. Ada tulisan bagus nih dari bukunya La Tahzan! punya ‘Aidh al-Qarni halaman 34 tentang “Shalat… Shalat…”.

"Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat."
– Al Quran Surat Al Baqarah ayat 153

“Jika Anda diliputi ketakutan, dihimpit kesedihan, dan dicekik kerisauan, maka segeralah bangkit untuk melakukan shalat. Niscaya, jiwa Anda akan kembali tenteram dan tenang. Sesungguhnya, shalat itu – atas izin Allah – sangatlah cukup untuk hanya sekadar menyirnakan kesedihan dan kerisauan. Setiap kali dirundung kegelisahan, Rasulullah selalu meminta kepada Bilal ibn Rabbah, “Tenangkanlah kami dengan shalat, wahai Bilal.” Begitulah, shalat benar-benar merupakan penyejuk hati dan sumber kebahagiaan bagi Rasulullah.”

Dan tentu saja, penutup kedua dengan quote personal…

“Hati-hati dengan tipuan syaithan yang menakuti. Tinggalkan dia! Segera! Allah tak pernah ingin kita sedih. Sungguh, Dia Maha Besar dari apapun di dunia!”

Friday, February 17, 2017

New Life Plan

Making a grand new life plan this year, honestly was not my plan. Before meeting Kak Dewina, my plan was just… making ibadah yaumiyah for the better future. Heheh. And the moment came to me on the last Jumuah. When I came to Kak Dewina’s Meet and Greet for her first book called “Awe-Inspiring Me : Dream big, Shine bright, Inspire more; Duhai Ukhti, Jadilah Luar Biasa!” at Gramedia, Depok.



It will take time to read this fabulous ukhti-ness book. Heheh. I mean to read with heart. Because I think, deep reading is more important for this kind of self-impowerment book. Agree with me, ya? Heheh. *maksa*

Meeting Kak Dewina is also a beautiful rizqi for me. When my life became a little strange this days. Meeting with her ideas, her way of life, and her spirit came around our tables. And also meeting some new friends, ukhti-ukhti with kerudung panjang XD

Okay. Now. Let me take a pretty quote from this lovely pink book. It said…
“Life is like camera. Focus on what’s important. You’ll capture it perfectly.”
By the way, the new life plan I adapted from the book, still on progress right now. It said to make timeline 16 – 60 years old in your life. I just made it till 40 years old. And now I’m 26. Heheh. Yes, making a new life plan will take a time, right? Just try to make it. Try to plan our life. Although the life is not perfect. Our plan is not perfect also. Because human need Allah’s perfect taqdir, ya? How perfect that new life plan we made, remember to take it back again to The Majesty of Allah.

Allah is The Greatest life maker.
Allah is The Best life planner.

What I learned from meeting someone inspiring like Kak Dewina is Allah never leave you if you come close to Him. He will come closer to us. Never forget how kind He is. So, when we are making a life plan, it’s all about how the way we think first. If it’s all about ridho-Nya Allah, so it will perfect. Again, it’s perfect.

And I will close this post with my personal quote…

“Jika kesungguhan telah terpatri di dalam diri, maka apalah artinya pencitraan.”